HaloJombang.com – Musim giling 2026 disambut optimis PG Tjoekir. Pabrik gula yang berada di Desa Cukir, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang ini menargetkan produksi gula kristal putih mencapai 400 ribu kwintal atau setara 40 ribu ton.
Optimisme pada pemenuhan target tersebut bukan tanpa data. Target produksi gula sebanyak 40 ribu itu didukung oleh kesiapan mesin dan meningkatnya luas lahan tebu di wilayah kerja (Wilker)-nya.
General Manager PG Tjoekir, Abdul Azis Purmali mengungkapkan, peningkatan produksi tahun ini didorong oleh perluasan areal tebu. Jika sebelumnya lahan tebu hanya sekitar 6 ribu hektar, kini telah berkembang menjadi sekitar 7 ribu hektar.
“Dari luas lahan 7 ribu hektar, akan menghasilkan tebu sebanyak 572 ribu ton sebagai bahan baku. Dan kami optimis, jumlah tersebut bisa menghasilkan 40 ribu ton gula kristal putih,” katanya.
Abdul Azis menegaskan, PG Tjoekir tetap fokus sebagai produsen gula konsumsi berkualitas dan tidak terlibat dalam produksi gula rafinasi.
“Kami murni menggiling tebu rakyat untuk menghasilkan gula kristal putih. PG Tjoekir tidak memproduksi atau menggiling gula rafinasi,” tegasnya, Selasa (28/04/2026).
Untuk menjaga kualitas dan meningkatkan kesejahteraan petani, PG Tjoekir secara rutin melakukan pembinaan, penyuluhan, hingga kunjungan langsung ke petani. Upaya ini dilakukan guna menjaga dan meningkatkan kualitas rendemen tebu agar tetap optimal selama musim giling berlangsung.
Menurutnya, di wilayah kerja PG Tjoekir sendiri terdapat sekitar 8 lembaga petani tebu yang menaungi sekitar 800 petani tebu, yang terus diperkuat melalui forum komunikasi kemitraan (FKK).
“FKK itulah menjadi sarana mencari win-win solution bersama petani tebu. Harapannya, agar kemitraan itu terjalin erat dan saling menguntungkan,” ujar Abdul Azis.
Selain itu, perusahaan juga melakukan investasi pada peralatan baru serta perawatan mesin secara berkala. Langkah ini dilakukan agar proses giling selama kurang lebih 200 hari ke depan dapat berjalan efisien, sehingga target produksi tercapai, kesejahteraan petani terjaga, dan kinerja perusahaan tetap sehat.
Dittanya terkait adanya pabrik gula swasta, Abdul Aziz menilai kehadiran mereka bukan ancaman, melainkan sebagai mitra strategis dalam mendukung program swasembada pangan dan energi nasional.
Menandai dimulainya musim giling, PG Tjoekir juga tetap melestarikan tradisi budaya. Prosesi buka giling direncanakan berlangsung pada minggu ketiga atau keempat Mei 2026, diawali dengan selamatan sebagai bentuk rasa syukur.
Rangkaian acara juga akan dimeriahkan dengan tradisi manten tebu sebagai simbolisasi tebu terbaik sebelum digiling, serta pagelaran wayang kulit dan hiburan rakyat bagi masyarakat sekitar.
Abdul Aziz menyebut, pihaknya telah berkoordinasi dengan pemerintah daerah agar seremoni pembukaan berjalan lancar.
“Kami sudah berkoordinasi dengan Bapak Bupati dan jajaran Forkopimda. Insya Allah, akan hadir dalam seremoni pembukaan nanti,” tambah Abdul Azis.







