Mengulik Misteri 9 Goa di Desa Latsari Jombang, Jejak Pelarian Maling Celuring

Latsari mojowarno jombang
Kepala Desa (Kades) Latsari, Muslikan (kiri) dan Yono, pengantar penelusuran 9 goa di Desa Latsari, Kecamatan Mojowarno, Kabupaten Jombang.

HaloJombang.com – Di bagian barat daya Kecamatan Mojowarno, Kabupaten Jombang, tepatnya di Desa Latsari, tersimpan kisah lama yang hingga kini masih menjadi perbincangan warga. Bukan sekedar cerita rakyat biasa, desa ini diyakini menyimpan jejak pelarian tokoh legendaris bernama Maling Celuring yang konon membawa kabur Putri Bajang dari wilayah Karanglo.

Jejak pelarian itu dipercaya tertinggal dalam bentuk 9 lubang atau goa kecil yang tersebar di beberapa titik di desa Latsari. Letaknya, ada yang berada di tepi sungai, di tengah sawah, hingga tersembunyi di area pabrik dan pekarangan warga. Meski beberapa sudah tertutup zaman, aura misterinya masih terasa kuat hingga sekarang.

Mungkin saja, dari keberadaan 9 goa yang dipercaya memiliki aura mistis itulah, salah satu dusun di Desa Latsari dinamakan dengan Dusun Gowa.

Kepala Desa (Kades) Latsari, Muslikan menyebut, keberadaan sembilan goa tersebut sudah dikenal turun-temurun oleh masyarakat setempat. Menurut cerita yang diwariskan para leluhur, lubang-lubang itu digunakan Maling Celuring sebagai tempat persembunyian saat dikejar warga usai menculik Putri Bajang.

“Ukuran goanya kecil. Kalau masuk harus satu orang, bahkan sedikit membungkuk,” ujar Kades Muslikan, Jumat (24/04/2026).

Tidak semua goa mudah ditemukan. Beberapa tertutup semak liar dan pepohonan lebat, sementara lainnya berubah fungsi karena perkembangan kawasan industri.

Dari total sembilan goa, dua di antaranya berada di area persawahan, empat lainnya di lahan milik warga, dan sisanya berada di wilayah pabrik. Bahkan ada goa yang kini tertutup permanen oleh bangunan dan mesin produksi.

Meski begitu, masyarakat setempat masih meyakini setiap goa memiliki cerita dan penjaga gaib masing-masing. Sosok yang paling sering disebut adalah Eyang Kertojoyo yang dipercaya menghuni goa kesembilan, serta Nyai Sungging yang diyakini berada di goa kedelapan.

Kepercayaan tersebut membuat lokasi ini diselimuti nuansa mistis. Warga jarang mendatangi area goa saat malam hari, terlebih pada bulan Suro atau Muharram yang dipercaya menjadi waktu paling sakral.

Sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur desa, Pemerintah Desa (Pemdes) Latsari rutin menggelar tradisi Bersih Desa setiap bulan Suro. Tradisi tersebut diisi doa bersama, sedekah desa, pengajian hingga pertunjukan wayang kulit apabila anggaran memungkinkan.

“Kalau tanggalnya tidak tentu. Sesuai kesepakatan bersama. Yang penting di bulan Suro,” ungkap Muslikan.

Menariknya, legenda Desa Latsari ternyata memiliki kaitan erat dengan Desa Karanglo. Warga percaya tokoh pembabat alas atau pendiri wilayah justru dimakamkan di Karanglo, bukan di Latsari. Hal itu memperkuat hubungan sejarah dua desa yang sama-sama menyimpan kisah tentang Putri Bajang dan Maling Celuring.

Menelusuri Satu per Satu Goa Misterius di Desa Latsari

Kali ini, HaloJombang berkesempatan untuk mengunjungi langsung 9 goa dengan diantar Yono warga asli Desa Latsari yang sejak kecil akrab dengan cerita tersebut.

Goa pertama berada di lokasi yang cukup tersembunyi. Jalannya tertutup semak dan pepohonan liar hingga nyaris tidak terlihat dari kejauhan. Suasananya sunyi dan lembap, menambah kesan angker di area tersebut.

Tak jauh dari sana terdapat goa kedua dengan kedalaman sekitar enam meter. Kini lubang itu dialiri air sawah menuju sungai kecil di bawahnya. Yono mengaku semasa muda dirinya pernah masuk ke dalam goa hanya untuk mencari sarang burung sriti.

Memasuki area perkebunan, goa ketiga tampak ditutup besi anyam demi alasan keselamatan warga. Besi anyam tersebut bisa dibuka tutup sewaktu-waktu.

Sedangkan goa keempat berada di pekarangan rumah warga dan dulunya dikenal sebagai punden keramat dengan pohon Kepuh berukuran besar di dekatnya.

Konon, tempat yang berdekatan dengan goa keempat itu sering didatangi pemain kuda lumping maupun dalang wayang sebelum pentas untuk meminta keselamatan dan kelancaran pertunjukan.

Aura misteri semakin terasa ketika memasuki kawasan pabrik tempat goa kelima berada. Goa ini dikenal memiliki aliran air paling deras. Warga setempat bahkan percaya lorong di dalamnya tersambung hingga wilayah bekas Kerajaan Majapahit di Mojokerto.

Sementara goa keenam dan ketujuh kini sudah tidak bisa diakses karena tertutup bangunan industri.

Perjalanan kemudian berlanjut menuju goa kedelapan yang berada di tengah sawah liar. Warga percaya lokasi itu menjadi tempat bersemayam Nyai Sungging, sosok perempuan yang diyakini menjaga kawasan tersebut.

Sebagai penutup, Yono menunjukkan goa kesembilan yang dipercaya menjadi tempat persemayaman Eyang Kertojoyo. Hingga kini, nama tokoh tersebut masih dihormati warga dan dianggap sebagai bagian penting dari sejarah mistis Desa Latsari.

Lainnya:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *