HaloJombang.com – Persoalan limbah tahu yang diduga mencemari aliran sungai di wilayah Kecamatan Peterongan, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, makin menyita perhatian warga dan netizen. Keluhan warga yang telah berlangsung bertahun-tahun hingga kini belum juga menemukan solusi nyata.
Tak hanya dikeluhkan warga Dusun Mancar Timur, Desa Mancar, Kecamatan Peterongan. Kondisi air sungai yang keruh dan bau menyengat juga melintas di kawasan Pondok Pesantren (Ponpes) Darul Ulum Rejoso, Kecamatan Peterongan.
Saat dikonfirmasi, Wakil Ketua DPRD Jombang, Syarif Hidayatullah atau Gus Sentot, memilih tidak memberikan komentar terkait persoalan limbah tahu yang dikeluhkan warga.
“Jangan saya. Nggak enak saya kalau ngasih tanggapan terkait limbah tersebut. Sampean bisa minta statement Komisi C saja,” ujarnya saat dihubungi melalui sambungan telepon.
Pernyataan berbeda disampaikan Ketua Komisi C DPRD Jombang, M Zahrul Jihad. Menurutnya, persoalan limbah tahu merupakan problem klasik yang berulang kali dibahas, namun tak pernah benar-benar terselesaikan.
“Itu masalah klasik yang tidak bisa terselesaikan. Saya sampai dari pondok sudah berkali-kali audiensi ke dewan. Tapi tidak terselesaikan. Alasannya sudah dibangunkan IPAL komunal,” kata Zahrul melalui pesan suara WhatsApp.
Zahrul bahkan menyebut Gus Sentot memiliki peran sebagai pembina pabrik tahu di kawasan sentra industri tersebut. Karena itu, ia menilai pihak yang lebih tepat dimintai keterangan adalah Gus Sentot.
“Yang kedua, Gus Sentot itu sebagai pembina pabrik tahu. Mending konsultasinya dengan Gus Sentot saja. Kalau saya sama saja, tidak ketemu apa-apa. Karena yang punya kepentingan di wilayah itu adalah Gus Sentot,” lanjutnya.
Di sisi lain, Anggota Komisi C DPRD Jombang, Syaifulloh, mengaku prihatin atas keluhan warga terkait dugaan pencemaran limbah tahu di Sungai Mancar dan kawasan Rejoso.
Menurutnya, persoalan tersebut tidak bisa terus dibiarkan karena sudah berdampak pada kesehatan masyarakat dan kualitas lingkungan.
“Kami Komisi C prihatin atas keluhan warga terkait limbah tahu di Sungai Mancar Peterongan yang diduga mengganggu kesehatan dan lingkungan. Persoalan ini harus segera ditangani serius oleh pemerintah daerah bersama dinas terkait melalui pengecekan lapangan dan solusi pengolahan limbah yang tepat,” ujarnya.
Ia menegaskan DPRD tetap mendukung keberlangsungan UMKM industri tahu sebagai penggerak ekonomi masyarakat. Namun, pengelolaan limbah wajib menjadi perhatian agar aktivitas usaha tidak menimbulkan dampak buruk bagi warga sekitar.
“Kami mendukung UMKM tetap berkembang, namun pengelolaan limbah juga wajib diperhatikan agar tidak merugikan masyarakat sekitar. Harapannya ada solusi cepat demi kesehatan warga dan lingkungan yang lebih baik,” tambahnya.
Saat ditanya mengenai kemungkinan inspeksi mendadak (sidak) bersama dinas terkait, Syaifulloh menyatakan Komisi C berencana turun langsung ke lokasi. Namun hingga berita ini ditulis, belum ada kepastian jadwal sidak karena pesan lanjutan yang dikirimkan tidak mendapatkan respons.
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jombang, Miftahul Ulum, mengakui pemerintah daerah belum mampu menyelesaikan persoalan limbah tahu secara menyeluruh.
Menurutnya, keterbatasan anggaran dan teknologi menjadi hambatan utama dalam penanganan limbah industri tahu yang selama ini dikeluhkan masyarakat.
“Kita secara anggaran dan teknologi belum dapat menyelesaikan secara menyeluruh terkait dampak ini. Tetapi pemerintah daerah sudah berupaya melalui bantuan CSR ke pemerintah pusat untuk membantu menyelesaikan persoalan ini. Mudah-mudahan tahun ini bisa diselesaikan pembangunan IPAL komunal,” katanya.
Sebelumnya, warga Dusun Mancar Timur mengeluhkan bau menyengat yang muncul dari aliran sungai di wilayah mereka. Warga menduga limbah tersebut berasal dari sejumlah pabrik tahu di Dusun Bapang, Kecamatan Jogoroto.
Keluhan itu bukan persoalan baru. Warga menyebut kondisi sungai yang tercemar telah berlangsung lebih dari lima tahun. Selain mengganggu kenyamanan, bau limbah yang menyengat disebut mulai memicu gangguan kesehatan seperti batuk, pusing hingga sesak napas. (*)
Penulis : Adi
Editor : Arief Anas













Komentar