Mengulik Tradisi Jelang Buka Giling di PG Tjoekir Jombang

pasar malam jelang buka giling PG Tjoekir Jombang
Pasar malam jelang Buka Giling 2026 PG Tjoekir, Jombang.

HaloJombang.com – Mendengar kata pabrik gula, sebagian orang kerap mengaitkannya dengan nuansa mistis dan cerita horor. Hal ini tak lepas dari keberadaan sejumlah pabrik gula di Indonesia yang terbengkalai dan terkesan angker, bahkan kerap dijadikan lokasi “uji nyali” dalam sejumlah tayangan.

Namun, di balik kesan tersebut, pabrik gula (PG) juga lekat dengan tradisi dan budaya masyarakat yang telah diwariskan turun-temurun. Salah satunya terlihat di kawasan PG Tjoekir yang berada di Desa Cukir, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang.

Menjelang musim buka giling, berbagai kegiatan budaya digelar untuk menyemarakkan suasana sekaligus sebagai bentuk rasa syukur. Mulai dari pasar malam, jalan sehat, bersih-bersih lingkungan, tradisi petik tebu, pagelaran wayang semalam suntuk, dan lainnya.

Menariknya, meski saat ini pertunjukan Tayub sudah jarang digelar, istilah Tayub atau Tayuban masih melekat kuat di tengah masyarakat setiap kali perayaan selamatan buka giling tiba. –Mungkin dulunya, Tayub merupakan gelaran andalan.

Tayub atau Tayuban sendiri merupakan kesenian tari pergaulan khas Jawa yang melibatkan penari wanita (waranggana) dan pria (pengibing) dengan iringan gamelan.

General Manager (GM) PG Tjoekir, Abdul Azis Purmli menjelaskan, tayub bukan sekedar hiburan, melainkan bagian dari upaya melestarikan budaya Jawa yang sarat makna filosofis.

“Tayub adalah upaya menyelaraskan antara alam fisik dengan alam rohani,” ujarnya, Selasa (28/4/2026).

Menurutnya, nilai-nilai dalam tradisi tersebut juga mengandung unsur religius, sebagai bentuk ikhtiar menjaga keseimbangan alam serta memohon perlindungan kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa.

Selain tayub, tradisi petik tebu juga menjadi bagian penting dalam rangkaian kegiatan jelang buka giling di PG Tjoekir. Tradisi ini dilakukan di area perkebunan sebagai simbol rasa syukur atas hasil kerja para petani selama satu musim tanam. Kegiatan ini biasanya diiringi doa bersama agar seluruh proses produksi berjalan lancar.

Tak hanya itu, pagelaran wayang ruwat dan wayang kulit turut digelar sebagai simbol pembersihan diri dan lingkungan dari energi negatif sebelum dimulainya musim giling.

Ditanya apakah ada korelasi antara serangkaian perayaan tersebut dengan kelancaran giling, Abdul Azis mengatakan, pihak manajemen percaya bahwa menjaga tradisi leluhur ini memiliki korelasi positif terhadap kelancaran operasional pabrik.

“Meskipun hal itu secara ilmiah sulit dibuktikan. Tapi kita tetap melestarikan budaya dan tradisi ini. Ini merupakan sarana kita mendekatkan diri kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa,” jawabnya.

Disinggung soal kejadian di luar nalar selama giling berlangsung, Abdul Azis mengaku belum pernah mengalami kejadian ganjil secara langsung selama memimpin PG Tjoekir. Meski demikian, ia tidak menampik adanya aroma mistis yang dirasakan oleh para karyawannya.

“Kalau saya pribadi belum pernah, tapi banyak karyawan yang bercerita tentang kejadian di luar nalar. Hal-hal gaib itu kadang menemani keseharian kami di sini, dan itu hal yang biasa,” ungkapnya. (*)

Lainnya:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *