HaloJombang.com – Kalau sabar itu ada batasnya, mungkin warga Jombang sudah mendekati garis finish. Pasalnya, proyek perbaikan jalan nasional dari Jalan Mastrip, Jalan Gatot Subroto, sampai jalur vital menuju Kecamatan Mojoagung, Kabupaten Jombang, kayak sinetron yang panjang, berliku, dan belum jelas kapan rampungnya.
Padahal, proyek tersebut bukan proyek ecek-ecek. Anggarannya disebut-sebut tembus puluhan miliar rupiah dari Kementerian PUPR lewat BBPJN, dan dikerjakan PT Tripallindo. Tapi hasil di lapangan? Ya begitulah. Jalan masih terasa seperti naik perahu di laut yang bergelombang.
Alih-alih diaspal ulang secara total alias overlay. Yang terjadi justru tambal sulam di sana-sini. Aspal lama dibiarkan hidup berdampingan dengan tambalan baru, menciptakan tekstur jalan yang bikin shockbreaker motor atau mobil, kerja ekstra. Belum lagi gelombangnya yang cukup untuk menguji kesabaran sekaligus nyali pengendara.
Padahal Wakil Gubernur (Wagub) Jawa Timur, Emil Dardak, sempat datang meninjau. Harapannya, setelah dikunjungi ada perubahan signifikan. Tapi yang berubah cuma harapan warga yang makin tipis.
“Harusnya itu di-scrap total baru di-overlay, bukan ditambal kayak gini,” celetuk Dedi, salah satu warga yang mulai lelah berharap, Rabu (6/5/2026).
Menurutnya, sejumlah ruas seperti Jalan Mastrip, Gatot Subroto, hingga Basuki Rahmat sudah dikerjakan. Namun, saat memasuki jalur flyover Peterongan sampai Mojoagung, progres justru terkesan sangat lambat. Ia menyebut kondisi jalan di jalur tersebut sudah “hancur lebur”, bukan hanya tidak nyaman dilalui, tetapi juga membahayakan terutama saat malam hari atau setelah hujan.
Selain itu, masih ada titik penting yang belum tersentuh, termasuk di depan Alun-alun Jombang yang merupakan ikon kota.
“Yang lain sudah, tapi depan Alun-alun malah belum. Padahal itu wajah kota,” ujarnya.
Kondisi ini membuat warga mempertanyakan keseriusan pengerjaan proyek, mengingat anggaran sudah berjalan, namun hasil di lapangan dinilai belum maksimal.
Warga juga mulai melirik peran pengawasan. Bagian PPK (Pejabat Pembuat Komitmen) BBPJN jadi ikut kena sorotan. Soalnya, proyek dengan nilai besar dan urgensinya tinggi itu bisa jalan santai tanpa tekanan berarti ke pelaksana.
Intinya sederhana, warga Jombang tidak butuh janji-janji. Mereka cuma butuh jalan yang mulus, aman, dan nggak bikin was-was setiap kali lewat.
Kalau sampai ini terus berlarut, jangan kaget kalau warga mengeluh dan bahkan melapor ke pemerintah daerah jika jalan ini tidak segera diperbaiki. (*)







