HaloJombang.com – Jalan itu seharusnya sarana orang atau warga sampai tujuan. Tapi jalan jurusan Sumobito–Betek–Mojoagung, tepatnya di kawasan Betek Utara, Kecamatan Mojoagung, Kabupaten Jombang, yang melintas di sana bakal was-was, dan mungkin saja berimajinasi liar tentang apa saja yang bersembunyi di balik semak.
Alih-alih terlihat seperti jalan kabupaten yang layak, kondisi di sana sekarang lebih mirip jalur setapak di tengah “hutan rimba”. Rumput liar tumbuh subur, semak belukar menjulang.
Padahal jalanan ini, dilalui kendaraan dan aktivitas warga.
Pantauan di lokasi, kondisi paling mencolok terlihat di sekitar area pabrik sepanjang jalur tersebut. Rumput liar tidak hanya merusak pemandangan, tapi juga menciptakan kesan angker. Apalagi kalau melintas di sana pada malam hari, bikin orang refleks mempercepat laju motor, bukan karena buru-buru, tapi karena ingin cepat keluar dari situ.
“Kalau dibiarkan terus seperti ini, selain tampak kumuh, kita takut ada ular atau hewan berbahaya lainnya,” keluh Alex (67), pedagang pentol yang sehari-hari mangkal di kawasan itu, Sabtu (25/4/2026).
Keluhan itu bukan tanpa alasan. Tinggi rumput yang bahkan melampaui tinggi orang dewasa jelas bukan sekedar masalah estetika. Kondisi itu juga membuka kemungkinan munculnya ancaman lain, dari hewan liar sampai potensi tindak kriminal yang bisa memanfaatkan kondisi jalan yang tertutup semak.
Yang bikin miris, warga merasa kondisi ini seperti dibiarkan terlalu lama. Perawatan jalan yang mestinya jadi tanggung jawab pemerintah, justru seringkali dilakukan secara swadaya oleh pihak swasta, pihak pabrik yang berada di sekitar lokasi.
Ironinya terasa. Bahwa pajak tetap dibayar rakyat, tapi yang motong rumput malah bukan yang punya kewenangan.
Dinas PUPR Jombang, khususnya Bidang Bina Marga, dinilai bekerja “setengah hati”. Pembersihan yang jarang dan tidak menyeluruh membuat rumput liar seperti punya hak tumbuh kembali lebih cepat, apalagi di musim penghujan seperti sekarang.
Sampai berita ini ditulis, jalur Mojoagung–Sumobito semacam bukti dari koordinasi yang entah tersendat di bagian mana. Rumput itu tetap tumbuh, semak tetap rimbun, dan jalan tetap dilalui dengan rasa khawatir. (*)






