Pawai Hari Kartini di Jelakombo Jombang Meriah, Kebaya hingga Kostum Adat Penuhi Jalan

pawai hari kartini di jelakombo jombang
Serka Soli saat mengamankan arus lalu lintas agar peserta pawai Hari Kartini aman dan nyaman, Selasa (21/4/2026).

HaloJombang.com – Peringatan hari Kartini di Kabupaten Jombang, Selasa (21/4/2026), dimeriahkan ribuan orang dengan turun ke jalan Desa Jelakombo, Kecamatan Jombang, menggelar pawai budaya.

Kebaya berjejer. Pakaian adat dari berbagai daerah ikut nimbrung, termasuk kuda lumping. Anak-anak sekolah tampil dengan gaya masing-masing. Ada yang serius, ada yang setengah main, tapi semuanya kelihatan menikmati.

Di tengah keramaian itu, ada satu sosok yang mungkin tidak terlalu mencolok, tapi justru penting, yaitu Serka Soli.

Ia bukan peserta. Ia tidak pakai kebaya. Tapi tanpa kehadirannya, pawai itu bisa jadi berubah dari rapi menjadi riuh yang susah diatur.

Sejak pagi, Serka Soli sudah berdiri di titik-titik yang rawan macet. Mengatur arus, memberi jalan, memastikan semua yang ingin tampil bisa tampil dengan aman, nyaman, tanpa harus saling serobot.

Tugas itu kelihatannya sederhana, tapi kalau dilepas sedikit saja, hasilnya bisa beda cerita.

“Pawai budaya ini bukan sekedar seremonial. Ini momentum untuk menyalakan kembali semangat RA Kartini, terutama untuk generasi muda,” ujarnya di sela-sela mengatur lalu lintas.

Dan memang, pawai ini bukan cuma soal pakaian. Beberapa pelajar tampil dengan drama kecil tentang perempuan Indonesia. Ada juga yang teriak yel-yel dengan penuh semangat.

Yang menarik, kebaya bukan lagi satu-satunya pusat perhatian. Banyak peserta justru tampil dengan pakaian adat dari berbagai daerah, seolah ingin bilang, Kartini itu bukan cuma milik satu budaya.

Di sisi lain, kerja sama antara panitia, aparat, dan masyarakat terlihat cukup solid. Dan sampai acara selesai, semuanya relatif aman. Tidak ada drama yang berarti, tidak ada keributan yang bikin panitia puyeng. Mungkin karena semua orang tahu perannya masing-masing.

Peserta fokus tampil. Penonton fokus menikmati. Dan aparat, seperti Serka Soli, fokus memastikan semuanya tetap berjalan sebagaimana mestinya.

Di akhir acara, satu hal yang tersisa dan seringkali sulit dijaga, yakni rasa kebersamaan. Bahwa di tengah segala perbedaan gaya, pakaian, dan ekspresi, semua orang bisa berbagi ruang yang sama tanpa harus saling mengganggu. Dan mungkin, di situlah semangat RA Kartini terasa relevan hari ini. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *