HaloJombang.com – Ada satu cerita di Desa Mancilan, Kecamatan Mojoagung, Kabupaten Jombang, yang justru dimulai dari hal paling sederhana, yaitu swadaya. Bahasa sederhananya, urunan. Swadaya untuk tetangganya.
Warga setempat memilih cara gotong royong untuk membantu satu warganya, bernama Setyo Wibowo (58), yang selama ini hidup bersama anaknya yang masih berusia 7 tahun, tanpa rumah layak huni.
Setyo, begitu ia biasa disapa, bukan tidak punya tanah. Ia punya, hak miliknya. Tapi seperti banyak cerita lain, punya lahan tidak selalu berarti bisa langsung bangun rumah. Persoalannya, tidak ada biaya.
Bertahun-tahun kondisi itu dibiarkan. Bahkan, sejauh ini ia pergi dan hidup di luar kota untuk bekerja. Itu pun uangnya juga tidak bisa ngumpul. Lalu, sekitar tiga tahun belakangan, Setyo kembali pulang ke Mancilan atau kampung halamannya, tanpa hunian yang layak.
Sampai akhirnya warga sekitar merasa tidak bisa lagi sekedar lewat dan melihat. Melalui musyawarah bersama, keputusan diambil. Rumah untuk Setyo harus dibangun. Minimal, bisa ditinggali dulu.
Kepala Desa (Kades) Mancilan, Atim Ridwan, menyebut keputusan membangun rumah untuk “bapak tunggal” itu lahir dari kesadaran bersama.
“Alhamdulillah, melalui musyawarah bersama RT dan keluarga, kami bersepakat untuk mendirikan bangunan meski sederhana. Yang penting bisa ditempati dengan layak dulu untuk Pak Setyo dan anaknya,” ujarnya, Senin (20/4/2026).
Pembangunan pun berjalan. Pelan-pelan, seadanya, tapi pasti. Karena pembangunan ini murni swadaya masyarakat, uang yang terkumpul juga terbatas.
Rumah untuk Setyo memang sudah mulai berdiri, tapi belum benar-benar selesai. Masih ada kebutuhan penting seperti kamar mandi, sanitasi, dan penyempurnaan bangunan yang belum terpenuhi.
Di sisi lain, hidup Setyo juga tidak cuma soal tempat tinggal. Ia juga sedang berhadapan dengan persoalan yang tidak kalah rumit, yaitu kesehatan. BPJS yang pernah ia miliki kini tidak aktif lagi karena tunggakan.
“Saya tidak punya uang untuk membayar,” katanya pelan.
Di usia yang tidak lagi muda, dengan tanggungan anak kecil, kondisi seperti itu jelas bukan situasi yang mudah. Sakit bukan cuma soal badan, tapi juga soal biaya yang seringkali datang tanpa kompromi. Harapannya sederhana, ia bisa mendapatkan akses layanan kesehatan tanpa harus pusing memikirkan biaya.
Pemerintah Desa (Pemdes) Mancilan sendiri sudah mencoba mengupayakan bantuan lewat program Peningkatan Kualitas Rumah Tidak Layak Huni (PK-RTLH) dari dinas terkait.
Menurut Kades Atim, hingga tahun ini, total ada 24 warganya yang diajukan untuk mendapatkan program PK-RTLH, dan pihaknya berharap, Setyo bisa masuk sebagai prioritas tambahan.
“Kami sangat berharap ada perhatian serius dari pihak terkait agar kebutuhan dasar warga kami, terutama untuk hunian dan kesehatan Pak Setyo dan anaknya, dapat segera terpenuhi,” pungkas Kades Atim. (*)
Tonton videonya: Video Warga Mancilan Bangun Rumah Secara Swadaya






