HaloJombang.com – Warga Dusun Tempuran, Desa Sukorejo, Kecamatan Perak, Kabupaten Jombang, mulai kasak-kusuk terkait Dana Corporate Social Responsibility (CSR) dari PT Charoen Pokphand Jaya Farm (CPJF) Unit 3 sebesar Rp30 juta.
Dana CSR tersebut, semestinya menjadi penopang pembangunan lingkungan dusun Tempuran-Bangle, namun diduga menyusut drastis sebelum benar-benar dirasakan masyarakat.
Sudah hampir empat bulan berlalu, namun realisasi pembangunan tak kunjung tampak. Di masa itu, warga justru dikejutkan dengan kabar jika dana yang diterima dusun disebut-sebut hanya sekitar Rp9,5 juta. Sementara sisanya, sekitar Rp20,5 juta, hingga kini belum memiliki kejelasan.
Kondisi itu memunculkan kecurigaan di tengah masyarakat. Warga menilai pengelolaan dana CSR dilakukan secara tertutup dan tidak transparan. Berbagai alasan disebut-sebut menjadi dalih pemotongan anggaran, mulai dari biaya operasional desa, pajak, hingga kebutuhan lain yang tidak pernah dijelaskan secara rinci kepada warga.
“Itu uang untuk masyarakat, tapi warga malah tidak tahu dipakai untuk apa saja. Yang diterima cuma sedikit, pembangunan juga belum jelas,” ujar salah satu warga yang meminta namanya dirahasiakan.
Menurut sumber di lingkungan Pemdes Sukorejo, dana sekitar Rp20 juta dikabarkan sudah berada di tangan Tim Pelaksana Kegiatan (TPK) untuk keperluan pelaksanaan pembangunan. Namun hingga kini, keberadaan dan rincian penggunaan dana tersebut belum pernah dipublikasikan secara terbuka.
Sementara Handoyo, Ketua RW sekaligus TPK saat dikonfirmasi, memilih irit bicara. Ia menolak memberikan penjelasan melalui pesan singkat dan hanya bersedia memberikan keterangan secara langsung.
“Kalau ketemuan saya siap, kalau lewat WA atau telepon saya nggak anu,” katanya singkat.
Ketika dijadwalkan pertemuan, ia malah mengaku sedang berada di luar kota karena urusan pekerjaan dan kegiatan desa.
Tak hanya itu, ia juga meminta agar media menanyakan persoalan tersebut kepada pihak pemerintah desa (Pemdes), termasuk Sekretaris Desa dan Penjabat (Pj) Kepala Desa Sukorejo ketika itu. (*)
Editor : Arief Anas













Komentar