HaloJombang.com – Di sela-sela kesibukan menyiapkan sajian menu dan hiruk pikuk pembeli lontong balap, tersimpan sebuah cerita perjuangan yang kini membawa seorang gadis asal Jombang menembus bangku kuliah di China.
Ia adalah Jenar Maesa Ayu (21), putri pasangan Moh Supren yang dikenal dengan nama Frengky Lento (49), dan ibunya, Mujiati (47), penjual lontong balap di jalan Gus Dur atau depan GOR Jombang, yang kini sedang menempuh pendidikan di Kota Chongqing, China.
Baca: Lontong Balap di Jombang Ini Ramai Pembeli, Lento Khasnya Jadi Favorit
Tak banyak yang menyangka, Jenar kini belajar bisnis internasional dengan bahasa Mandarin sebagai pengantar utama. Namun bagi Jenar, perjalanan itu dimulai dari kebiasaan kecil sejak masih duduk di bangku sekolah.
“Saya memang dari kecil suka belajar bahasa. Bahasa Inggris, Perancis, Korea, saya memang sudah suka dan sedikit bisa,” ujar Jenar, begitu ia biasa disapa ketika dihubungi lewat WhatsApp.
Perempuan lulusan SMPN 1 Peterongan dan SMA Negeri Jogoroto itu mengaku mulai tertarik melanjutkan kuliah ke China saat kakak perempuannya sedang menempuh pendidikan di negeri Tirai Bambu tersebut.
“Waktu kelas 3 SMA, kakak saya yang kuliah di China sudah mau lulus. Dari situ saya mulai tertarik dan akhirnya setelah lulus SMA saya sudah yakin ingin kuliah di China,” katanya.
Keinginan itu akhirnya terwujud. Jenar berhasil mendapatkan beasiswa dari pemerintah China sehingga biaya kuliahnya ditanggung penuh.
“Alhamdulillah dapat beasiswa dari pemerintah China, jadi uang kuliah gratis semua,” ungkapnya.
Kini, sudah hampir satu tahun Jenar tinggal dan belajar di Chongqing. Ia mengambil jurusan Bisnis Mandarin, sebuah program studi yang mempelajari strategi bisnis China sekaligus memperdalam kemampuan bahasa Mandarin.
“Semua pelajaran yang saya pelajari berhubungan dengan strategi bisnis China,” jelasnya.
Meski biaya kuliah ditanggung dengan beasiswa, perjuangan orang tuanya tetap menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya. Sang ayah, setiap hari berjualan lontong balap demi mencukupi kebutuhan keluarga, termasuk mengirim uang saku untuk Jenar di China.
“Iya benar, setiap hari orang tua saya bekerja keras jualan lontong balap demi anak-anaknya. Kadang sebulan sekali, kadang dua kali mengirim uang saku untuk saya,” tuturnya.
Bagi Jenar, pengorbanan kedua orang tuanya menjadi motivasi terbesar untuk terus bertahan dan berprestasi di negeri orang.
“Saya ingin mengucapkan beribu-ribu terima kasih kepada kedua orang tua saya karena selalu mendukung semua mimpi anak-anaknya, terutama saya dan kakak saya yang ingin kuliah di luar negeri,” ucapnya haru.

Ia juga mengaku bangga memiliki ayah dan ibunya yang rela bekerja di bawah panas matahari demi masa depan anak-anaknya.
“Terkhusus untuk ayah saya yang rela kerja panas-panasan demi semua anaknya. Saya bangga punya ayah dan ibu seperti mereka,” lanjutnya.
Jenar menilai, keputusan kuliah di China memiliki prospek besar untuk masa depannya. Menurutnya, kemampuan bahasa Mandarin kini menjadi nilai tambah karena semakin banyak perusahaan China yang bekerja sama dengan Indonesia.
“Di Indonesia sekarang sudah banyak perusahaan China. Jadi orang yang bisa berbincang bahasa Mandarin pasti jadi poin plus,” katanya.
Tak hanya soal bahasa, Jenar juga merasakan perbedaan sistem pendidikan di China yang menurutnya lebih maju dan kompetitif.
“Pendidikan di China bisa dikatakan lebih maju dari Indonesia. Selain itu, lingkungan di sini membuat saya terbiasa menggunakan bahasa Mandarin dan berada di lingkungan yang serba bisnis. Kalau untuk kuliahnya ditempuh empat tahun, sama dengan jenjang pendidikan S1 pada umumnya,” jelasnya.
Selama di Chongqing, Jenar juga aktif mengikuti berbagai kegiatan kampus dan kebudayaan. Ia pernah melakukan presentasi mengenai Festival Idul Adha, mengikuti fashion show budaya, hingga mengunjungi sejumlah ikon terkenal di Chongqing seperti Jiefangbei dan kawasan wisata Shibati.

Ia juga mengatakan, sempat berfoto di depan jembatan terkenal yang menghubungkan wilayah Chongqing menuju Chengdu, sebagai kenang-kenangan.
Menariknya, bukan hanya Jenar yang berhasil kuliah di China. Sang kakak juga merupakan lulusan universitas di China dengan beasiswa yang sama dan kini telah bekerja di Jakarta.
“Kakak saya sudah lulus sebelum saya masuk kuliah di sini. Alhamdulillah sama-sama dapat beasiswa,” ujarnya.
Kisah Jenar menjadi bukti bahwa mimpi besar bisa lahir dari mana saja. Dari sebuah gerobak lontong balap sederhana di Kabupaten Jombang, kini seorang anak pedagang mampu melangkah hingga ke negeri Tirai Bambu demi mengejar masa depan. (*)
Penulis : Arief Anas













Komentar