HaloJombang.com – Di Kabupaten Jombang, ada satu desa yang kalau diajak ngobrol rasanya beda banget dengan bahasa Jawa. Dari total 302 desa, 301 pakai bahasa Jawa Jombang-an (peralihan dialek Surabaya dengan dialek Mataraman). Satu desa ini menggunakan bahasa Madura dalam keseharian. Namanya, Desa Manduro.
Secara geografis, Manduro berada di Kabupate Jombang bagian utara, masuk wilayah Kecamatan Kabuh. Dari pusat kecamatan jaraknya sekitar 8 kilometer, sementara dari Jombang Kota sekitar 30 kilometer. Biar gampang, patokannya simpel, cari saja Satradar 222 AURI. Nah, dari situ, Manduro sudah dekat.
Lalu, bagaimana satu desa tersebut berbahasa Madura? Menurut cerita turun-temurun, orang Manduro bukan pendatang biasa. Mereka diyakini sebagai keturunan prajurit dari Kerajaan Majapahit yang berasal dari Madura.
Kalau dihitung dari runtuhnya Kerajaan Majapahit seitar tahun 1527 Masehi, keberadaan Manduro sudah sekitar 500 tahun lalu. Para prajurit tersebut tidak pulang ke kampung halaman. Mereka menetap, beranak-pinak, dan mempertahankan bahasa Madura di tengah dominasi budaya Jawa di Jombang.
Kepala desa Manduro, Jamilun, menyebut keberadaan mereka bukan kebetulan sejarah, tapi jejak panjang yang masih hidup sampai hari ini.
“Orang Manduro itu asalnya dulu adalah prajurit dari Majapahit. Keberadaannya sudah sekitar 500 tahun,” ujarnya.
Menurutnya, salah satu titik penting di Manduro adalah adanya makam Buyut Niko, tokoh yang dikenal masyarakat sebagai cikal bakal Manduro. Buyut Niko bersama istrinya menetap di wilayah yang kini bernama Manduro dan beranak-pinak yang sampai sekarang jumlahnya sudah lebih dari 3.500 jiwa.
“Tokoh yang disebut masyarakat bernama Buyut Niko ini memiliki gelar Tuan Nata. Nah, kalau digali lagi, dari kitab Pararaton, gelar Nata itu adalah penguasa setingkat dengan Bhre atau Adipati,” jelas Jamilun.
Hanya saja, Jamilun tidak memastikan buyut Niko yang bergelar Tuan Nata itu adalah penguasa wilayah mana di era Majapahit.
“Kalau itu saya nggak begitu tahu. Yang jelas, orang Manduro berasal dari dua orang tersebut (Buyut Niko dan istrinya) yang bergelar Tuan Nata,” katanya.
Kemudian, nama Manduro sendiri baru diresmikan sekitar tahun 1913–1914, atau tiga tahun setelah Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jombang resmi berdiri pada 1910 setelah berpisah dari Kabupaten Mojokerto.
Dikatakannya, yang meresmikan nama desa Manduro adalah Carik (Sekretaris Desa) Wayo. Sebelumnya, desa ini dikenal sebagai Mandurorejo.
Selain desa yang identik dengan bahasa Madura, lanjut Jamilun, penamaan Manduro diambil dari simbol nama pewayangan yaitu keturunan dari Mandura yang merujuk pada perjalanan Prabu Kuntibejo.

Budaya dan Tradisi di Manduro
Makam Buyut (kalau dalam bahasa Maduranya: Bujuk) Niko, tokoh yang dikenal sebagai cikal bakal Manduro bergelar Tuan Nata, menjadi salah satu jujugan ziarah.
Menurut Kades Jamilun, peziarah di makam Buyut Niko, harus menaati aturan yang tidak bisa ditawar. Di antaranya, perempuan yang sedang menstruasi dilarang masuk. Dan, bagi laki-laki yang mau ziarah harus dalam keadaan suci, dan tidak sedang junub.
Kalau dilanggar? Ya, warga sih percaya ada konsekuensi yang tidak bisa dijelaskan pakai logika warung kopi.
Selain itu, Manduro juga punya jejak peninggalan yang bikin kita sadar kalau desa ini bukan desa biasa. Ada punden di Gunung Kemendung, Sendang Weji, dan Situs Jeladri yang disebut-sebut berkaitan dengan era Kerajaan Kahuripan (Raja Airlangga) yang dilanjutkan dengan era Majapahit.
Bahkan, konon situs Jeladri ini merupakan kawasan yang dipilih Patih Gajah Mada (kala itu menjabat Kepala Pasukan Bhayangkara Majapahit) sebagai tempat persembunyian Raja Jayanegara, raja kedua Majapahit ketika huru-hara pemberontakan Ra Kuti pada tahun 1319 Masehi. Ini berkaitan dengan nama Bedander sebagaimana dicatat di kitab Pararaton.
Situs Jeladri sendiri, masih menjadi wilayah Manduro yang berbatasan dengan Dusun Bedander. Sebuah dusun yang kini masuk wilayah Desa Sumbergondang, Kecamatan Kabuh.
Kalau mau lihat Manduro dalam versi “full performance”, datang saja saat Jumat Legi di bulan Selo (kalender Jawa) atau Dzulqo’dah. Di momen itu, warga menggelar kesenian Sandur.
Kesenian Sandur ini menggabungkan drama tari, topeng, dan nyanyian dengan nuansa sakral, sering kali menggunakan bahasa Madura, serta menampilkan perpaduan budaya Jawa dan Madura yang kental. Bahkan, Sandur Manduro ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Nasional oleh Kemendikbud pada 2017/
Tak sekedar pentas biasa, ada ritual “Sentren”, yakni proses menyucikan alat gamelan dan penari di Gunung Kemendung sebelum tampil. Jadi sebelum show dimulai, ada “backstage spiritual” dulu.
Selain itu, warga juga rutin mengadakan Selamatan Barikan tiap Jumat Legi di titik kumpul tertentu, Ada juga yang digelar di balai desa Manduro. Ini semacam doa kolektif agar desa tetap aman, tenteram, dan tidak kehilangan identitasnya di tengah gempuran zaman.
Bertahan Itu Pilihan
Di era modernitas saat ini, Desa Manduro justru menunjukkan hal sebaliknya. Mereka bukan sekedar bertahan, tapi sadar betul bahwa identitas itu harus dirawat.
“Harapan saya, mari kita uri-uri bersama adat budaya ini. Terutama bahasa keseharian kita, jangan sampai pudar,” kata Jamilun.
Dan memang, di Manduro, bahasa bukan cuma alat komunikasi. Ia adalah penanda bahwa mereka pernah datang dari jauh, memilih tinggal, dan sampai sekarang masih setia pada asal-usulnya.




